“ Aku harap.. kita bisa bicara nanti!,” pintanya dengan nada seolah memerintah.
“heh,” aku tertawa sengit. “Wanitamu marah padaku, aku rasa..dia akan segera membunuhku,” ucapku datar.
“kau takut?!,“ tanyanya seraya menatapku tajam.
Aku tersenyum kecut. “Sebelum dia membunuhku, aku akan membunuhmu terlebih dahulu!,” wajabku seraya membalas menatapnya tajam tapi tak lama.
“Ya, setelah itu kau akan tinggal di alam kematian bersamaku.”
“Dan aku akan membuatmu menangis darah karena itu.”
“Kau menyalahkanku?”
“Kau pikir ini salahku?”
Dia terdiam, menatapku. Hanya itu yang sering dia lakukan jika merasa kalah berdebat denganku. Entah kalah atau memang malas menanggapi. Setiap kali melihatku, tatapan matanya begitu tajam. Aku tidak tau tatapan macam apa itu. Mata itu marah atau sedang membaca sesuatu. Tatapan itu seolah ingin memangsaku. Menghisap darahku hingga mengering lalu meninggalkan jasadku.
Lelaki ini memang sangat berbeda. Dia playboy, tapi sangat dingin. Mungkin bisa dibilang dia adalah playboy yang kejam. Setelah dia mendapatkan hati seorang wanita, maka dia akan menghancurkannya pada saat itu juga. Dia akan senang dan merasa puas jika seorang wanita memohon-mohon dan berlutut padanya untuk tidak meninggalkannya. Aku rasa dia itu sakit.
Sampai kapan dia akan bertahan seperti itu, aku ingin dia segera menemukan seorang wanita yang sama kejamnya atau bahkan lebih kejam darinya, agar dia merasakan hal yang sama buruknya. Hati kecilku tertawa senang jika memikirkan hal itu. Ya, suatu saat itu akan terjadi padamu. Kau akan dibuang seperti kau membuang wanita-wanitamu itu.
Hm, sudah 3 tahun aku berharap hal itu akan terjadi padanya, tapi aku tidak mendapatinya. Posisinya masih tetap sama, selalu jadi pemenang. Bahkan semakin lama daya tariknya semakin kuat. Dan semakin banyak pula wanita yang merelakan dirinya terbunuh oleh lelaki itu. Dia memang seorang vampir, bahkan lebih kejam dari vampir. Dia adalah makhluk yang sangat mengerikan. Setiap kali berada di dekatnya hawa panas itu pasti muncul, dan itu membuat darahku naik. Emosiku memuncak ketika harus dihadapkan dengannya.
Aku menahan nafas saat dia tiba-tiba merapatkan tubuhnya padaku, aku menahan diri untuk tidak terkejut pada apa yang dia lakukan padaku. Matanya masih saja menatapku seperti itu. Aku berusaha sekuat tenagaku untuk menganggapnya biasa saja dan tidak tergerak sedikitpun dari tatapan itu. Aku rasa aku berhasil, mataku tidak tegoyah sedikitpun oleh tatapannya yang mengerikan itu. Mungkin saja saat ini dia sedang menggertakku atau berusaha mencari kelemahanku. Aku tidak boleh kalah darinya.
Wajahnya semakin mendekat, kurasakan hembusan nafasnya begitu dekat dan memenuhi wajahku. Hingga aku tidak bisa melihat lagi gambaran wajahnya dengan jelas karena terlalu dekat. Aku masih menahan diri untuk tidak terkecoh oleh permainannya. Hanya saja tangan ini sudah mulai mengeluarkan keringat dingin dan membuat kepalan. Ya, setidaknya tangan ini bisa kujadikan senjata apabila dia melakukan hal-hal yang buruk padaku. Dia terdiam sesaat dengan posisi yang sama.
“Aku rasa kita tidak perlu bicara lagi,” Bisikannya lebih terdengar seperti sebuah ancaman ditelingaku.
Seketika itu dia menjauhkan tubuhnya dariku lalu pergi menuju ruang kerjanya dengan wajah yang masih terlihat kaku. Aku hampir mati oleh kelakuannya yang menjijikan itu. Sesegera mungkin aku mengirup udara, jika tidak, aku akan mati sungguhan.
* * *
